Di barat – Renaissance dan Aufklarung merupakan dua motor utama dalam kemunculan proyek besar kesadaran manusia, metanarasi yang meng-counter doktrin-doktrin bernuansa “kemapanan” yang di justifikasi oleh agama-agama melalui gereja (Foucault, 2002). Cartesian-Newtonian menjadi paradigma yang populer diimplementasikan di era modern. Tak dapat dipungkiri, peran paradigma ini berkembang hingga melahirkan ragam teknologi dalam mengakomodir hidup manusia sampai saat ini. Paradigma Cartesian-Newtonian yang berkembang secara pervasif di era modern, cenderung memiliki corak pemikiran Subjektivisme-Antroposentrik, Dualisme, Mekanistik-Deterministik, Reduksionisme-Atomistik, instrumentalism, dan Materialism-Saintism. (Setiawan, 2010)
Counter-pun dilontarkan oleh basis narasi di era setelahnya – atau yang dikenal post-modern. Tokoh pemikirnya seperti Lyotard, Michel Foucault, Jean Baudrillard, Zygmunt Bauman, Jean Paul Sartre, dan Simone De Beauvoir. Seorang filosof berkebangsaan Inggris – Bertrand Russel telah memberikan kartu kuning pada narasi modern yang dibangun melalui paradigma Cartesian-Newtonian. Melalui penulisan esai Icarus or the Future of Science, Russel menggunakan alegori Icarus anak Daedalus karya Tuan Haldane untuk menginterpretasikan rasa ambisius manusia terhadap ilmu pengetahuan yang akan menghancurkan kehidupan manusia itu sendiri. Icarus dalam misinya melarikan diri dari pulau Kreta, Daedalus – ayahnya, membuatkan sayap yang terbuat dari bahan lilin dan bulu kepada Icarus – anaknya. Daedalus memperingatkan “Kamu jangan terbang terlalu tinggi, karena akan dekat pada matahari hingga melelehkan lilin pada sayapmu, dan kamu jangan terbang terlalu rendah karena akan membuat bulu pada sayapmu basah dan mencelakakan dirimu”, akhirnya Icarus terbang jauh mendekati matahari mengikuti ambisinya, dan membuat lilin di sayapnya meleleh dan Icarus jatuh tenggelam ke dalam lautan. Matahari pada alegori Icarus dapat ditafsirkan layaknya sebuah ilmu pengetahuan, tanpa diimbangi kesadaran moral Icarus mengikuti bisikan ambisinya untuk terbang tinggi pada ilmu pengetahuan yang pada akhirnya mencelakakan Icarus.
Menyoroti isu ekologis yang tengah berkembang saat ini, seperti cuaca ekstrem, deforestasi hutan, penurunan keanekaragaman hayati, emisi karbon yang tidak terkontrol. Tidak dapat dilegitimasi bahkan menormalisasi dengan mengafirmasi diri sendiri “itu kan hal yang sudah biasa, dan biar saja para pemangku jabatan yang bertanggung jawab keras dalam memikirkan hal tersebut”. Ketamakan manusia dalam mengeksploitasi alam telah terselubung menyelinap – meski itu tidak tampak dalam permukaan, tetapi itu dapat terlihat dari dampak-dampak yang dihasilkan oleh kebijakan yang telah dibuat. Dengan berdalih dapat mencari alternatif lain yang dapat dipecahkan masalahnya melalui tangan-tangan teknologi, tanpa diimbangi proses kontemplatif dalam memandang alam. Fritjof Capra menawarkan gagasan yang lebih ekstrem yakni mengenai konsep deep ecology. Dalam sudut pandangnya merupakan sebuah ajakan untuk tidak memandang alam sebagai objek-objek terpisah (collection of isolated object) melainkan manusia sebagai salah satu jaringan kehidupan (web of life) yang di dalamnya terdapat asas keterkaitan (interconnected) dan ketergantungan (interdependent). (Heriyanto, 2002)
KB-TK Labschool Jakarta, sebagai satuan pendidikan anak usia dini, berperan aktif dalam menyelenggarakan agenda pendidikan dengan memasukkan nilai-nilai intrinsik ekologis pada peserta didik. Tidak bermaksud menafikan perkembangan pesat teknologi, tetapi layaknya seperti dalam sistem logika non-klasik – first degree entailment atau pengharusan derajat pertama. Perkembangan teknologi yang dihasilkan melalui paradigma Cartesian-Newtonian, masih perlu diimbangi oleh basis narasi disiplin ilmu humaniora. Dalam program Lintas Budaya KB-TK Labschool tahun 2026 dengan tema “Hikayat Bukit Barisan”, pada kesempatan ini kami mencoba mengangkat serta merayakan dengan suka cita narasi-narasi lokal yang terdapat di Indonesia, khususnya di daerah Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Riau. Seperti kata Bagus Muljadi seorang asisten profesor di University of Nottingham “sebuah narasi berperan besar dalam mempengaruhi basis tindakan seseorang”.
Dalam kosmologi suku Batak dari Sumatra Utara kami mengangkat tradisi Mardoton. Sebuah tradisi kearifan lokal cara menangkap ikan dengan mempertimbangkan dampak keberlanjutan hidup, menghargai makhluk alam, dan tidak luput asas kolektivitas masyarakat Batak. Sebelum menangkap ikan, mereka melakukan rangkaian prosesi adat yang perlu dijalankan dengan sangat khidmat, tekun, dan menguji kesabaran melalui proses yang panjang. Mereka memilih pohon dengan ukuran 3 depa orang dewasa, dan terdapat prosesi doa sebelum menebang pohon yang akan dijadikannya sampan – atau dalam bahasa batak solu. Dalam proses membuat jaring atau yang mereka sebut doton, dilakukan selama hampir 4 bulan lamanya. Tetap mempertimbangkan ukuran diameter jaring agar dibuat lebar, dengan maksud agar ikan-ikan kecil tidak ikut tersangkut di dalam.
Di atas merupakan salah satu contoh narasi kearifan lokal dari suku batak dalam me-romantisasi alam. Setiap rangkaian proses yang dijalankan, tidak memandang alam sebagai entitas kosong, dikotomi subjek-objek, hingga terhindarkan aktivitas eksploitasi alam secara membabi buta. Dengan mengkritisi dan mengenal lebih dalam narasi-narasi kearifan lokal, seyogianya dapat menjadi perbendaharaan tindakan relasi manusia – alam, dan dapat menjadi daya negosiasi dalam menentukan arah kebijakan dalam kekuasaan kontemporer.
Daftar Pustaka
Foucault, M. (2002). Menggugat sejarah ide. Yogyakarta: IRCiSoD.
Heriyanto, H. (2002). Filsafat holisme-ekologis: Salah satu paradigma post-positivisme (Tesis Magister, Universitas Indonesia, Depok). Repository Paramadina.
Setiawan. (n.d.). Filsafat holisme-ekologis: Tanggapan terhadap paradigma Cartesian-Newtonian menurut pemikiran Fritjof Capra