08 September 2010 01:34 WIB
Halaman DepanKontak InfoPeta Situs
 
Artikel
Cari :
 
Halaman Depan
Profil Sekolah
Akademik
Program Unggulan
Prestasi
Berita
Artikel
Forum Diskusi
Kesiswaan
P.O.M.G
Galeri Foto
Alumni
Kontak Info
Download
Webmail
Guest Book
Artikel Versi Cetak
 
07 Juni 2010 08:39 WIB
Mengapa Kita Harus Memahami Budaya?

Margaret D. Pusch mendefinisikan budaya sebagai sejumlah tatanan hidup yang berkenaan dengan nilai, kepercayaan, standar estetika, kebahasaan, pola berpikir, tata cara berkehidupan, dan gaya berkomunikasi yang dikembangkan oleh sekelompok orang demi kelangsungan budaya tersebut di dalam sebuah lingkungan manusia. Budaya, akan seterusnya berkembang melalui interaksi sosial yang dilakukan oleh orang – orang yang terkait didalam ruang lingkup budaya itu sendiri. Jadi, alaminya budaya bukan suatu hal yang statis. Budaya bisa terlahir dengan terkembang secara tunggal dari kelompok tertentu, namun bisa juga merupakan hasil asimilasi atau percampuran satu budaya dengan suatu budaya lainnya. Hal tersebut biasa diterminologikan sebagai asimilasi budaya.

           

Sebagai contoh, bisa kita perhatikan budaya masyarakat betawi. Kebudayaan betawi sebenarnya merupakan bentuk dari asimilasi kebudayaan Cina. Asimilasi ini entah mulai kapan sudah mengalir. Bila kita mendengarkan aliran musik gambang kromong khas betawi, maka sesungguhnya terdapat sentuhan unsur khas musik etnis Cina didalam musik gambang kromong tadi.  

           

Begitu pula dengan tatanan bahasa betawi. Bahasa yang digunakan masyarakat betawi – baik di Jakarta, maupun Bekasi – juga memiliki sedikit sentuhan Cina. Kita sering mendengar istilah ’se-ceng’, ’goceng’, ataupun ’ceban’ untuk mengistilahkan sejumlah mata uang. Pengistilahan yang tadinya berasal dari bahasa Cina tersebut sudah digunakan masyarakat betawi dalam interaksinya dengan para pedagang Cina pada zaman dahulu. Pengistilahan yang dilakukan hanya sebatas luang ringkup perdangan dengan pedagang Cina tersebut, kini berkembang dan digunakan oleh masyarakat betawi dan non-betawi di Jakarta dan Bekasi saat ini. 

           

Disinilah sesungguhnya ’kekuatan’ dari sebuah budaya. Budaya bisa memberikan bentuk karakter seseorang yang mengembangkannya. Hal tersebut menjadikan seseorang menjadi khas dan berkarakter yang tentunya tidak terdapat persamaan dengan seseorang yang memiliki budaya yang berbeda.

           

Misalnya, karakter dan cara berkomunikasi orang Jawa dengan Makassar pastinya berbeda. Kita semua mungkin sudah mengetahui garis besar perbedaan cara berkomunikasi dari dua karakter kebudayaan tadi. Kita – secara umum – bisa menilai cara berbicara orang Jawa yang lebih pelan dan lembut, namun hal yang kontras akan di –atribut-kan kepada orang Makassar.

           

Padahal jika kita melihat hal tersebut dari dua sisi, yakni dari sisi pandang orang Jawa maupun Makassar, kita akan memahami bahwa sesungguhnya cara kedua karakter budaya tersebut wajar saja adanya. Jadi sama sekali tidak patut adanya penilaian bahwa cara orang Jawa berkomunikasi lebih baik dari orang Makassar, begitu pula sebaliknya. Kadang kala didalam masyarakat kita, masih terdapat sebuah sifat fanatik sempit dalam budaya yang diakuinya. Masih saja terdapat orang – orang yang beranggapan bahwa budaya yang diakuinya adalah budaya yang terbaik. Sedangkan budaya yang lainnya tidak lebih baik.

           

Memang sikap ’mengagungkan’ budaya yang dianut juga diperlukan. Namun, hal tersebut sejatinya tidak menjadikan seseorang menjadi tertutup dan menimbulkan jurang antar budaya. Kita memang sepatutnya ’mengagungkan’ budaya yang telah mengalir didalam diri kita, selama hal itu kita lakukan demi terjaga dan terlestarikannya budaya yang mengalir didalam diri kita tersebut. Bukan untuk menunjukkan sikap arogansi yang berlebihan.

           

Banyak sekali kita lihat sekelompok orang yang mengatas namakan sekelompok suku tertentu untuk menunjukkan arogansinya dengan cara pawai yang berlebihan hingga mengganggu stabilitas lalu lintas, ataupun sengaja menyulut ketegangan antar suku yang bisa mengakibatkan peperangan antar suku maupun etnis.

Namun perlu diingat: statement yang saya tulis tersebut sama sekali tidak mengindikasikan bahwa kita sebagai pelaku budaya harus menjadi lemah dan over-opened terhadap budaya lain yang berinteraksi dengan budaya kita. Perang antar suku memang diperlukan selama bertujuan untuk membela dan mempertahankan kelangsungan budaya yang telah mengalir.

Tentunya peperangan antar pelaku budaya tersebut tidak akan terjadi seandainya tiap-tiap kita memiliki sifat toleransi terhadap perbedaan budaya yang kita lihat. Perbedaan budaya sejatinya tidak menjadikan jurang bagi kita untuk berinteraksi dan mencoba untuk memahami sebuah budaya. Disinilah seharusnya sebuah sikap toleransi dimiliki oleh setiap manusia didunia ini untuk bisa menerima sebuah budaya dengan segala keindahan dan keterbatasan yang ada.

Keberagaman budaya di Indonesia sejatinya tidak untuk dijadikan sebagai jurang pemisah antar suku. Namun sebagai modal kekayaan negeri kita. Padahal dengan memahami budaya selain budaya yang kita anut, akan menjadikan kita sebagai manusia yang kaya akan wawasan budaya. Hal tersebut sesungguhnya menganugerahkan kita sebuah sifat luhur dalam menyikapi perbedaan budaya.

           

Memahami budaya yang bervariasi tidak juga berarti kita melupakan siapa kita dan darimana kita berasal. Disini perlu adanya filterisasi dalam memahami suatu budaya. Bukan juga kita telalu berwaspada secara berlebihan terhadap sebuah budaya yang baru bagi kita.

           

Intinya, tidak ada yang salah dalam memahami sebuah budaya yang berlainan dengan budaya kita. There is nothing to lose. Justru, dengan menanamkan sifat toleransi kita terhadap sesama penganut budaya yang lain, secara otomatis akan timbul sifat apresiatif dalam diri kita. Sifat apresiatif terhadap perbedaan yang kita jumpai dalam hidup kita. Menyadari bahwa seseorang berhak atas keunikan kebudayaan yang dijalaninya. Suatu sifat yang sangat luhur bagi makhluk yang berderajat tinggi seperti kita.

           

Mudah-mudahan apa yang saya tulis ini menjadi wacana positif bagi kita semua. Dan saya harap kita bisa belajar membuka mata dan hati untuk memahami apa yang belum kita pahami namun malah kita hindari. Apa yang saya tulis ini semata-mata hanya pernyataan-pernyataan opini saya sebagai salah seorang pelaku budaya yang masih awam dan perlu banyak belajar mengenaibudaya yang saya jalani.      

-Aji Ramdani-

Artikel Lainnya.
26 Juli 2010 12:27 WIB
British vs. American English
10 Juni 2010 06:20 WIB
Agar Pintar Selalu
02 Juni 2010 10:28 WIB
Discover Vocabs - Hiberno English compiled by Aji Ramdani
01 Juni 2010 10:15 WIB
Membangkitkan Kembali Indonesia oleh Nabilla Arsyafira aksel 1
21 Mei 2010 07:34 WIB
Anak Cerdas Berawal Dari Rumah
Login ID :
Password :
Pin :
gambar pin
Lupa Password?
Perlu Bantuan?

Hubungi Administrator bila mengalami kesulitan.
Jumlah Pengunjung
84931
Labschool Jakarta > SMP Labschool Kebayoran
© 2006, Hak Cipta oleh Labschool Jakarta